mediaonline

Ketika digigit ular berbisa lakukan Imobilisasi


Banyaknya kasus gigitan ular ditahun ini, tentunya membuat kita menjadi waspada dan sedikit berhati hati jika kita bertemu ular karna jika terkena bisanya berakibat kematian, lalu bagaimana jika kita terkena bisa ular dan penangannya.

Pendahuluan :

Apakah bisa ular itu ? 
Bisa pada ular sebenarnya adalah saliva (kelenjar ludah) yang termodifikasi.  Bisa ular terdiri dari banyak konstituen, yang utama adalah protein, termasuk didalamnya adalah enzim dan toksin polipeptida.   

Volume bisa yang masuk kedalam tubuh akan sangat bervariasi, bergantung ada jenis ular dan ukurannya. Tetapi patut diingat jangan menilai ular dari ukuran tubuhnya, karena ular berbisa yang kecil sekalipun bisanya dapat membunuh manusia.

Bagaimana membedakan ular berbisa dan tidak berbisa ? 

Tidak ada aturan baku dan sederhana untuk membedakan ular berbisa atau tidak, bahkan untuk herpetolog (ahli reptil) sekalipun membedakan ular berbisa atau tidak bukan hal yang mudah. Tetapi ada beberapa hal yang bisa menjadi acuan identifikasi ular berbisa, walaupun ini sekali lagi bukan hal yang baku : 

1. Bentuk kepalanya segitiga (mengacu pada jenis ular viperidae)
2. Memiliki gigi dengan taring bisa (sulit untuk di identifikasi dengan jarak aman)
3. Perilakunya ketika bertemu manusia, biasanya sangat tenang.
4. Ada “pit”, lubang seperti hidung diantara hidung dan mata (juga terdapat pada jenis ular piton) 

Sekali lagi ini tidak bisa menjadi acuan karena ciri diatas hanya bagi sebagian ular berbisa saja, dan tidak bisa buat acuan umum. Cara terbaik adalah dengan mengenal ular – ular berbisa tersebut satu persatu, dari gambar, morfologi, dan kekhususan perilakunya. 

Mengenal ular berbisa akan lebih mudah, karena hanya 10% saja dari total spesies yang ada di Indonesia yang berbisa tinggi dan mematikan. Dan dari 10% itu yang mengakibatkan kematian pada manusia hanya beberapa spesies saja, karena sebagian sangat jarang bersinggungan dengan manusia secara langsung.

Mengapa ular menggigit manusia ? 

Ular adalah binatang yang tidak menyerang tanpa provokasi. Dia lebih memilih untuk menghindari manusia jika hal itu memungkinkan, bahkan kobra sekalipun. Ular menyerang manusia karena mereka terpojok dan merasa terancam. Tindakan gigitan ular adalah salah satu bentuk pertahanan mereka dari ancaman manusia. 

Kebanyakan gigitan ular pada manusia, karena faktor ketidaksengajaan atau kebetulan. Sebagian besar korban adalah orang orang yang bekerja di lapangan, seperti petani sawah, atau di perkebunan teh , kopi, atau buah‐buahan. Biasanya mereka tidak menyadari akan keberadaan ular, sehingga pada saat sedang melakukan aktivitas tanpa sadar tangan/ kaki mereka berada di jarak jangkau gigitan ular. Begitu juga dengan karyawan‐karyawan yang bekerja di pertambangan, serta di hutan. 

Beberapa laporan juga kasus gigitan ular berbisa terjadi didaerah perkotaan. Kemungkinan besar karena faktor cuaca dan juga telah rusaknya habitat ular, sehingga ular sering nampak dipemukiman penduduk seperti kasus kebanyakan kini.

Bagaimana menghindari gigitan ular ?

Gigitan ular sangat bersifat insidentil, dan kadang kebetulan, sehingga sulit untuk betul‐betul menghindarinya. Tolong diinget dengan baik “ULAR TIDAK TAKUT GARAM”, dan belum ada cairan atau apapun yang benar benar bisa mengusir ular. Tetapi rekomendasi ini patut menjadi acuan untuk menghindari gigitan ular :

Belajar! Pelajarilah ular‐ular yang berada di sekitar lingkungan anda tinggal dan beraktivitas, kenali ciri‐cirinya, tempat mereka biasa berada, kapan ular itu beraktivitas (siang atau malam), cuaca yang mendukung mereka. 
Waspadalah terhadap kemungkinan datangnya ular selagi musim hujan, pada saat banjir , musim panen dan juga pada sat malam hari. 
Jauhi anak‐anak, dari lingkungan yang diduga ada ularnya. 
Gunakanlah Pakaian yang Aman pada saat anda berjalan di area yang dicurigai habitat ular, seperti menggunakan pakaian lengan panjang, dan sepatu boot. 
Gunakan Penerangan jika berjalan pada malam hari. 
Jauhi ular sebisa mungkin, dan jangan pernah memegang ular di alam bebas, dan jangan pernah memojokkan ular hingga dia tidak dapat menghindari anda, karena ular akan terus menyerang dengan intensif. 
Hindari tidur dibawah / tanah
Jangan menumpuk barang‐barang atau sampah di lingkungan tempat tinggal anda, karena itu akan mengundang ular untuk datang dan beristirahat disana. 
Tutup lubang‐lubang drainase rumah anda dengan kawat, sehingga ular tidak dapat masuk dari luar. 
Tebang Pohon yang memungkinkan menjadi media ular masuk ke dalam lingkungan rumah anda (pohon dari luar yang batangnya menjorok kedalam lingkungan rumah). 
Cek berkala, lingkungan tempat tinggal anda dari kemungkinan adanya ular.

GEJALA DAN TANDA GIGITAN ULAR

Jika tergigit ular yang tidak berbisa
Kebanyakan orang yang tergigit ular akan panik, dan mengira dia telah tergigit ular berbisa sehingga dari kepanikan itu akan menimbulkan hal‐hal merugikan yang lain. Detaknya jantungnya yang cepat dan merasa pusing, kadang dikarenakan oleh sugesti yang dibuat oleh manusia sendiri. Walaupun kita tetap harus waspada, kepanikan tidak akan membantu.

Tidak ada gejala yang harus dikhawatirkan jika tergigit ular tidak berbisa, selain hanya luka sobekan karena gigitan. Tanda gigitannya akan membentuk seperti huruf “U” yang merata (tidak ada bekas luka taring yang lebih menonjol)

Jika tergigit ular yang berbisa? Jenis Bisa Ular dan gejalanya jika tergigit

Secara garis besar jenis bisa ular dapat dibagi menjadi dua yaitu : Neurotoxin dan Haemotoxin.

a.Neurotoxin  
ƒ Menyerang dan mematikan jaringan syaraf
ƒ Terjadi kelumpuhan pada alat pernafasan  
ƒ Kerusakan pada pusat otak
ƒ Efek gigitan yang langsung terasa adalah korban merasa ngantuk 
b.Haemotoxin
ƒ Menyerang darah dan sistem sirkulasinya
ƒ Terjadi haemolysis
ƒ Transport O2 ke tubuh terganggu, terutama metabolisme sel

Gejala awal dan tanda‐tanda gigitan
Setelah tergigit ular yang berbisa, korban akan merasakan sakit yang sangat di bagian gigitan, terasa panas, dan ada pembengkakan dan akan terus menjalar ke siku (atau lutut jika dikaki) hingga nanti dibawah ketiak (atau selangkangan jika dikaki). Selain itu korban juga akan mengalami dehidrasi (kehausan berlebihan), serta gangguan pada pernafasan (sesak). Namun pada beberapa spesies ular seperti welang / weling , luka gigitan tidak terlalu terasa dan tidak membengkak, bahkan luka bekas gigitannya kadang tidak terlihat dengan jelas, sehingga harus diwaspadai.

Komplikasi jangka panjang Gigitan Ular
Gigitan ular terkadang tidak hanya berdampak dalam jangka waktu dekat saja, tetapi juga pada jangka panjang. Biasanya adalah rusaknya jaringan‐jaringan dilokasi gigitan, sehingga menyebabkan kelumpuhan, cacat atau mutasi, sehingga terkadang tindakan amputasi harus dilakukan, agar tidak membahayakan bagi  bagian tubuh lain.


 PENANGANAN GIGITAN ULAR

Pertolongan Pertama pada Gigitan Ular
Orang menganggap semua ular berbahaya, dan bila bertemu akan berusaha membunuhnya dan jika tergigit, segera melakukan penanganan gigitan yang berlebihan. Akibatnya cukup fatal serta merugikan manusia sendiri. Demikian pula jika penanganan efek gigitan ular berbisa tinggi dilakukan dengan lambat dan salah, maka dapat menyebabkan dampak yang fatal bagi korban.  

Efek gigitan racun ular ke tubuh manusia selain ditentukan oleh kadar bisa/racun itu sendiri juga dipengaruhi daya tahan tubuh manusia yang digigit. Semakin baik “pertahanan” alami atau antibody yang dimiliki, dan semakin sehat metabolisme tubuh manusia, efek gigitan akan berkurang rasanya dibandingkan dengan korban yang memiliki imunitas rendah atau sedang dalam kondisi tidak fit karena kecapekan atau sakit.

Hal yang paling utama dalam melakukan pertolongan pada korban gigitan ular berbisa adalah sang penolong tidak boleh Panik dan berusaha menenangkan korban juga agar tidak ikut panik. Lakukan segala tindakan dengan benar dan cepat (tapi tidak tergesa‐gesa).

1. Sebagai tindakan pertama kita sebaiknya mengetahui prinsip dasar penanganan gawat darurat dengan Metode DR CAB (Danger Response Circulation Airways Breath)

Danger  (Bahaya) 
Pastikan bahwa posisi penolong dan korban tidak dalam keadaan bahaya. Singkirkan ular dari sekitar kita, agar mencegah ada gigitan yang kedua atau ketiga. Posisikan penolong dan korban dalam posisi yang tidak membahayakan dari berbagai ancaman. 

Response (Respon)
Ajak bicara sang korban untuk mendapatkan respon, sehingga kita tahu bahwa dia dalam keadaan sadar dan dapat merespon apa yang kita lontarkan. Setelah itu mintalah pertolongan dengan berteriak “Tolong!!!”, dan juga menghubungi Unit Gawat Darurat  118 dan 119, jika dari telpon selular (GSM) bisa menghubungi 112.

Circulation (Sirkulasi) 
Memastikan sirkulasi darah lancar dengan memastikan ada tidaknya denyut jantung pada korban. Denyut jantung bisa ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban, caranya dengan meletakkan 2‐3 jari (telunjuk dan jari tengah) ditengah‐tengah leher korban hingga teraba trachea lalu geser ke kiri/kanan kira‐kira 2‐3 cm tekan dengan lembut 5‐10 detik.

Jika denyutan nadi terasa, maka lanjutkan ke langkah berikutnya yaitu airways. Tapi jika tidak ada denyutan nadi maka lakukan bantuan sirkulasi dengan cara :

• Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum). 

• Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. • Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari‐jari tangan menyentuh dinding dada korban, jari‐jari tangan dapat diluruskan atau menyilang. 

• Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali (dalam 15 detik = 30 kali kompresi)  dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 – 2 inci (3,8 – 5 cm). 

• Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle). 

• Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi. 

• Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 (Tiap 15 detik = 30 kompresi dan 2 kali tiupan nafas), dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong.

Airways (Jalur Nafas)    
Pastikan bahwa sang korban tidak terganggu jalur pernafasannya, jika terjadi gangguan maka harus dibebaskan jalur nafasnya. Perhatikan posisi leher! Posisi leher harus tetap lurus agar tidak menganggu jalur pernafasan.

Breath (Pernafasan) 
Setelah memastikan jalur pernafasannya tidak terganggu, maka selanjutnya kita harus memastikan bahwa sang korban bernafas dengan normal. Normalnya manusia akan bernafas 12‐30 kali dalam satu menit. Jika korban tidak bernafas dengan normal, atau sama sekali tidak bernafas, maka harus diberikan nafas bantuan atau CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).

Langkah‐langkah  CPR : 

• Pastikan korban pada berbaring lurus telentang, buka saluran napasnya dengan menempatkan satu tangan di dahinya dan mendongakkan kepalanya perlahan‐lahan ke belakang. 

• Singkirkan halangan apa pun dari mulut dan angkat dagunya. 

• Jepit lubang hidung korban hingga tertutup. Tarik napas penuh, tempatkan bibir Anda di sekliling mulutnya agar tidak ada celah. 

• Hembuskan napas ke dalam mulut korban sampai Anda melihat dadanya naik. Perlu waktu dua detik agar dada mengembang penuh. 

• Lepaskan mulut Anda dari mulutnya dan biarkan dadanya turun sepenuhnya, ini memerlukan waktu sekitar empat detik. Ulangi prosedur sekali lagi dan kemudian periksa tanda peredaran darah. 

• Jika tidak ada tanda‐tanda pemulihan, misalnya kembalinya warna kulit menjadi normal kembali atau pergerakan apa pun, cobalah lakukan resusitasi jantung paru. Tetapi jika terdapat tanda‐tanda pemulihan, namun korban belum bernapas, berikan 10 napas bantuan permenit dan periksa tanda peredaran darah setiap 10 napas. Jika korban kembali bernapas spontan, tempatkan dia dalam posisi pemulihan.

2. Imobilisasi luka gigitan  dan Lakukan pembalutan elastis 

Pembalutan dimulai diatas luka gigitan, jangan tutupi luka gigitan, sehingga memungkinkan untuk melakukan insisi nantinya jika diperlukan. Jangan buka balutan hingga sampai di Klinik atau Rumah Sakit.   Imobilisasi luka gigitan bisa dilakukan dengan menggunakan bidai, atau papan yang menyangga tangan/kaki, sehingga tangan/kaki korban tidak banyak bergerak.

3. Tenangkan korban 

jangan banyak melakukan aktifitas/gerakan yang menguras tenaga dan mempercepat detak jantung, karena bisa ular akan semakin cepat menyebar seiring detak jantung.

4. Kenali ular yang menggigit (LANGKAH VITAL dan PENTING!) 

Di Indonesia ini sangat penting dan vital, karena tim medis akan lebih mudah dan cepat menanganinya jika mengetahui jenis bisanya. Minimnya pengetahuan tim medis akan jenis ular juga biasanya mempersulit penanganan pada korban. 

• Jika dapat mengenali ular, sesuaikan tindakan pertolongan sesuai dengan karakter efek bisa nya terhadap manusia. 
• Jika luka gigitan terdapat dua titik yang nyata, berarti berbisa tinggi 
• Jika luka gigitan membentuk huruf  U dengan jumlah luka banyak berarti tidak berbisa. 
• Jika tidak dapat mengenali jenis ular, anggap bahwa itu ular yang berbisa tinggi dan mematikan. Jika anda memiliki telpon selular yang ada kameranya mungkin anda bisa memotretnya. Hafalkan ciri‐ciri ular tersebut (warna, bentuk tubuh, bentuk kepala, gerak‐gerik, dan perilaku khususnya)

5. Lakukan tindakan pertolongan pertama 

Efeknya berbeda beda sesuai jenis racun yang terkandung di dalam bisa ular.
Efek gigitan pada umumnya : 
• Pembengkakan pada luka, diikuti perubahan warna 
• Rasa sakit di seluruh persendian tubuh 
• Mulut terasa kering 
• Pusing, mata berkunang ‐ kunang 
• Demam, menggigil 
• Efek lanjutan akan muntah, lambung dan liver (hati) terasa sakit, pinggang terasa pegal, akibat dari usaha ginjal membersihkan darah. 

Penanganan jika tergigit dengan efek di atas : 
• Posisikan bagian yang terluka lebih rendah dari posisi jantung 
• Ikat diatas luka sampai berkerut. Setiap 10 menit, kendorkan 1 menit 
• Buat luka baru deagn kedalam sekitar 1‐2 mm dengan pisau, cutter, silet (yang disterilkan atau tidak, tergantung situasi). Buat luka pada mulai dari bagian atas, melalui lubang luka akibat taring. INGAT ! irisan luka baru jangan horisontal tetapi vertikal. 
• Keluarkan darah sebanyak mungkin dengan cara mengurut kearah luka baru. korban akan terasa sangat kesakitan, sehingga perlu dilakukan dengan hati – hati tetapi tetap berlanjut. Saat mengurut, ikatan dapat dikendorkan. Upaya pengeluaran dapat dibantu dengan alat khusus “snakebite kit”, alat suntik (tanpa jarum), batang muda pohon pisang, teknik menggunakan tali senar, dll.... 
• tidak dianjurkan melakukan proses pengeluaran darah dan racun dengan menyedot melalui mulut. Karena itu sangat beresiko pada si penolong karena racun dapat mengkontaminasi mulut, gigi, gusi bahkan tertelan hingga lambung dan usus. 
• Proses itu dilakukan berulang‐ulang hingga darah berwarna merah kehitaman dan berbuih keluar semua dan berganti dengan darah berwarna merah segar.  

Evakuasi korban 
Jika pertolongan tidak segera datang, sebaiknya anda segera membawa korban ke Rumah Sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut. Informasikan kepada tim medis / dokter kronologis yang terjadi, apa yang sudah dilakukan dan ular apa yang menggigit, serta sudah berapa lama. Biasanya dokter akan melakukan observasi selama 1x24 jam setelah pasien mendapatkan suntikan antibisa ular dan yang lainnya.

Referensi   


-CSl Bioplasma ‐ Immunohaematology. CSL Principles of First Aid for Snakebite. 2005. Victoria 
-Das, Indraneil. A Field Guide to The Reptiles of Southeast Asia. New Holland Publisher. 2010. London 
-Menzies School of Health Research. Australian Snakebite Project Procedures.2008. Darwin 
-Supriyatna, Jatna Drs. Ular Berbisa di Indonesia.Penerbit Bhratara Karya Aksara. 1981. Jakarta.p 75 -Sudoyo AW, et.al. (ed.) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. 2006. FK UI. Jakarta. Hlm. 210‐212. 
-Sioux Indonesia. Makalah pengantar : Identifikasi dan Penanganan Ular di Indonesia. 2011. Jakarta. -Warrel, David A. Guidelines for The Clinical Management of Snake bites in the Sout‐East Asia Region. 1999. 
-WHO. Thailand WHO Regional Office for South‐East Asia. Report and Working Paper 


Posting Komentar